Daily Devotion

Selasa, 31 Mei 2016

Mazmur 139:7-12 "Ke mana aku dpt pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dpt lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau. Jika aku terbang dgn sayap fajar, & membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, & tangan kanan-Mu memegang aku. Jika aku berkata: "Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, & terang sekelilingku menjadi malam," maka kegelapan pun tdk menggelapkan bagi-Mu, & malam menjadi terang spt siang; kegelapan sama spt terang. "

Jika seorang anak Tuhan benar benar sadar akan kehadiran Bapa-nya disetiap sisi hidupnya, maka dia akan menjadi anak Tuhan yg tenang dan dpt dgn tentram menghadapi segala sesuatu yg ada dihidupnya. Sebab bukan saja Bapa itu maha hadir, Dia juga berkuasa dan sangat mencintai anak anak-Nya. Ketika anak saya pergi ke manapun bersama dgn saya, anak itu akan merasa tenang dan damai, dia tdk takut nanti bagaimana kalau haus atau lapar, bagaimana kalau dia kepingin beli ini atau itu, bagaimana kalau ada orang jahat... semua itu dia hadapi dgn lebih tenang dan damai, sebab bapanya ada disisinya. Tahukah saudara bahwa Bapamu tdk pernah meninggalkanmu? Dia selalu berjaga jaga atas hidupmu dan Dia sangat perduli kpd mu, sebab Dia Bapamu yg mencintaimu.

dibuat pada : 2016-05-30 19:08:48

Senin, 30 Mei 2016

Mazmur 139:7-12 "Ke mana aku dpt pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dpt lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau. Jika aku terbang dgn sayap fajar, & membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, & tangan kanan-Mu memegang aku. Jika aku berkata: "Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, & terang sekelilingku menjadi malam," maka kegelapan pun tdk menggelapkan bagi-Mu, & malam menjadi terang spt siang; kegelapan sama spt terang. "

Daud di Mazmur 139 ini melukiskan satu kharakter Illahi yg sekalipun kita mengerti tapi sering sulit di fahami, Dia lah Allah yg Maha hadir. Perhatikan sekali lagi ayat ayat diatas, sebenarnya Daud sedang berkata: Dimanakah tempat yg tdk dpt dibuktikan bahwa TUHAN ada disana? Aku ke atas (ke langit) Dia ada disana, aku ke bawah (Liang kubur) Dia ada disana, aku ke timur ( ke arah sayap fajar) Dia ada disana, atau jika aku ke barat (wester horizon - belahan barat MSG bible) Dia pun ada disana, bahkan gelap gulita sekalipun tdk mampu menghilangkan Tuhan... jika setiap anak anak Tuhan memahami kebenaran sejati ini, apakah lagi yg perlu kita takutkan dan khawatirkan? Bukankah kehadiran 'immanuel' bagi kita itu sudah lebih dari semua yg kita butuhkan dlm hidup?

dibuat pada : 2016-05-29 18:51:01

Jumat, 27 Mei 2016

Amsal 29: 17, 19 :

Ayat 17 --> "...Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu. ..."

Ayat 19 --> "...Dengan kata-kata saja seorang hamba tidak dapat diajari, sebab walaupun ia mengerti, namun ia tidak mengindahkannya..."

Sekarang kita tahu dan mengerti bahwa yg membuat kita sulit dibentuk atau dipakai Tuhan itu karena kedegilan hati kita sendiri, kita mengerti kebenaran Firman Tuhan, namun kita memilih utk tdk mengindahkan-nya, atau tdk memperdulikan-nya, itulah hati yg degil, yg tdk mau diajar. Urapan tdk menjamin bahwa kita akan memiliki hati yg teachable. Bileam kurang bagaimana diurapi? Bahkan Balak raja Moab saja mendengar begitu kuatnya urapan Tuhan atas Bileam, perkataan Bileam diperhitungkan oleh Tuhan sendiri dan digenapi oleh Tuhan. Ingat waktu hati Bileam tergoda oleh upah tenung yg ditawarkan oleh Balak utk mengutuki Israel, mengapa tdk Tuhan cabut saja urapan atas Bileam, spy perkataannya tdk ada artinya lagi? Mengapa Tuhan harus menghardik dan bahkan sampai tega utk mengirim malaikat utk membunuh Bileam? Bukankah jauh lebih mudah utk sekedar mencabut urapan dari padanya? Dari hal ini kita melihat urapan tdk menjamin hatimu bisa diajar. Sebaliknya, Tuhan jauh lebih perduli engkau memiliki hati yg bisa diajar daripada melakukan perkara dasyat karena urapan Tuhan sekalipun,... tapi yg mana yg sering dikejar oleh gereja gereja dan anak anak Tuhan hari hari ini? Kejarlah sikap hati seorang anak yg mau diajar.

dibuat pada : 2016-05-26 18:23:08

Kamis, 26 Mei 2016

Amsal 29:17, 19 :

Ayat 17 --> "...Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu. ..."

Ayat 19 --> "...Dengan kata-kata saja seorang hamba tidak dapat diajari, sebab walaupun ia mengerti, namun ia tidak mengindahkannya..."

Israel selamat 430 tahun hidup sbg budak ditanah Mesir, setelah tangan Tuhan yg kuat membebaskan mereka dari perbudakan Firaun, Israel dituntun berjalan dipasang gurun, namun dihati bangsa itu, mental budak belum dikeluarkan dari diri mereka. Saya membayangkan betapa beratnya tugas selama 40 tahun yg harus dipikul oleh Musa utk mendidik, mengajar, dan membentuk para mantan budak yg masih memiliki mental budak. Berkali kali kita bisa mencium bau mulut mental budak, spt di Keluaran 14:12 "...Bukankah ini telah kami katakan kpd-mu di Mesir: Jgn-lah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini." Benarkah demikian? Bukankah mereka sendiri yg berseru seru dan berteriak kpd Tuhan minta dibebaskan dari perbudakan di Mesir, bagaimana mungkin sekarang mereka berani berkata kpd Musa "...Bukankah ini telah kami katakan kpd-mu di Mesir: Jgn-lah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir..." Bukankah ini dolak dalik namanya? Itulah nafas mental budak, mudah ceplas ceplos, ngomong seenak perutnya sendiri tanpa dipikir, apapun dia utarakan selama menguntungkan, sebab ukurannya untung - rugi! Have a blessed day, GBU.

dibuat pada : 2016-05-25 21:06:31

Rabu, 25 Mei 2016

Amsal 29:17, 19 :

Ayat 17--> "...Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu. ..."

Ayat 19 --> "...Dengan kata-kata saja seorang hamba tidak dapat diajari, sebab walaupun ia mengerti, namun ia tidak mengindahkannya..."

Kenapa anak bisa diajar dan memahami arti pengajaran, sedangkan budak tdk? Sebab anak tahu 'nilai' sedangkan budak hanya tahu 'harga'. Coba renungkan kebenaran ini, pengajaran atau teguran itu bernilai bagi orang yg memiliki mental keputraan, mental seorang ahli waris, namun karena tdk menimbulkan 'harga atau keuntungan' apapun, maka tdk ada artinya bagi seorang budak. Seorang budak akan lebih memilih upah yg banyak dari pada nasehat yg memiliki nilai nilai luhur, sebab upah itu mengenyangkan dan menyenangkan sedangkan nasehat yg bernilai luhur tdk membuat perut kenyang dan daging nyaman. Persis spt itulah yg terjadi bagi anak anak Tuhan yg bebal, yg keras kepala dan tdk memiliki hati yg teachable. Mereka menolak didikan bukan karena tdk mengerti, tapi karena tdk bermanfaat baginya. Semua diukur dari 'harga' yg ditumbulkan dari yg dia terima. Buat apa saya harus berlaku jujur dan setia kalau itu merugikan saya?... Buat apa hidup berbagi jika tdk ada faedahnya bagi saya?... Apa untungnya merendahkan hati, apalagi jika saya merasa benar dan lebih pandai dari orang lain?... semua itu adalah apa yg timbul dihati orang yg bermental budak, segala sesuatu diukur dari untung rugi bagi dirinya sendiri, sebaliknya seorang anak, karena tahu ada masa depan utk menjadi ahli waris, anak mencondongkan hati kpd didikan. Bagaimana dgn kita?

dibuat pada : 2016-05-24 19:24:23

Selasa, 24 Mei 2016

Amsal 29: 17, 19 :
Ayat 17--> "...Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu. ..."
Ayat 19 --> "...‎Dengan kata-kata saja seorang hamba tidak dapat diajari, sebab walaupun ia mengerti, namun ia tidak mengindahkannya..."
Ketika saya masih kanak kanak, saya melihat beberapa teman teman saya mendapatkan 'upah' jika mereka membantu orang tua mereka, spt membersihkan rumah, mencuci piring, buang sampah dan lain sebagainya. Saya dahulu mencoba utk memberikan usulan tsb kpd orang tua saya, namun ditolak mentah mentah. Sekarang saya juga adalah orang tua, saya setuju dgn apa yg orang tua saya lakukan dgn tdk memberi 'upah' kpd anak anak saya utk mengerjakan pekerjaan yg diperintahkan orang tua kpd anak anak, sebab dgn menawarkan upah, berarti kita sedang menanamkan mental budak kpd anak anak, dan anak anak akan hanya bergerak meresponi upah. Adalah satu hal yg sangat memalukan jika kita mau jujur tentang mental yg ada di bangsa ini, mayoritas masyarakatnya hidup dgn mental budak yg tdk mau diajar, tdk mau melakukan tugas dgn benar dan penuh tanggung jawab jika tanpa uang sogokan, dari mana kita belajar mental budak spt itu? Dari hidup sekian lama dlm penjajahan, dan sekalipun kita sudah merdeka, tapi mental budak, mental terjajah itu masih melekat dlm hidup sebagian besar masyarakat kita, sama spt Israel yg sudah keluar dari Mesir, namun dipadang gurun masih hidup dgn mental budak yg hanya tahunya mengeluh... bersungut sungut... menuntut... Dan mudah utk diombang ambingkan. Bagaimana dgn saudara dan saya? Adakah hatimu teachable? Bisa diajar? Atau degil spt budak?

dibuat pada : 2016-05-23 18:30:12

Senin, 23 Mei 2016

Amsal 29: 17, 19 :
Ayat 17 --> "...Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu. ..."
Ayat 19 --> "...‎Dengan kata-kata saja seorang hamba tidak dapat diajari, sebab walaupun ia mengerti, namun ia tidak mengindahkannya..."
‎Perhatikan ke dua ayat diatas, ditulis didalam satu pasal yg sama, Salomo menerangkan perkataan hikmat yg akan memberi definisi yg sangat jelas tentang mental hati yg bisa diajar, yg teachable. Pada ayat 17 Salomo menerangkan sikap yg lahir dari hati yg memiliki 'mental seorang anak', atau yg mungkin sering kita dengar di bentuk oleh 'spirit of Sonship', roh keputraan. Sebaliknya di ayat 19, Salomo menerangkan juga tentang sikap yg dilahirkan oleh 'mental budak' atau 'mental hamba'. Jgn samakan mental budak dgn spirit of servanthood atau roh perhambaan, mental budak adalah mental pengemis, mental yg bergerak sekedar meresponi upah atau cambukan, itulah mental budak. Dari kedua ayat diatas, kita bisa jelas melihat bahwa yg bisa diajar, yg memiliki teachable heart adalah jika kita memiliki dasar mental seorang anak, spirit of Sonship, bukan mental budak. Anak bisa dididik, tetapi budak sekalipun mengerti, namun tdk akan dgn rela hati utk mengindahkan didikan, kenapa keduanya berbeda? Sebab anak itu focus atau meresponi 'bapak-nya' berdasarkan posisinya didlm rumah tangga, sedangkan budak merespon kpd upah. Adakah engkau rindu memiliki hati yg teachable? Milikilah mental anak, bukan budak.

dibuat pada : 2016-05-22 19:34:17

Jumat, 20 Mei 2016

Yakobus 3:3-4 "Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.
Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi..."
Jika kita mau belajar utk menyerahkan kendali hidup kita kpd nahkoda Agung kita, yaitu Tuhan kita Yesus Kristus, mulailah dgn belajar mentaati kebenaran Firman Tuhan yg sudah kita mengerti. Kita akan menemukan diri kita berada dipersimpangan jalan, antara hidup sesuai Firman Tuhan atau hidup yg sesuai dgn kemauan kita sendiri. Ketika dlm keadaan terjepit, berbohong itu langsung membawa kita keluar dari masalah, jujur akan membawa kita utk dikucilkan, siapa yg akan memegang kendali pada saat spt itu? Ketika pelayanan dan pengabdian kita tdk terlihat orang, bahkan tdk digubris orang lain, meniup terompet utk memberi tahu semua orang akan menyenangkan dagingmu, tapi bertekun dan berdiam diri akan menyangkal dagingmu sendiri, suara siapa yg akan engkau ikuti? Ketika hidup benar akan membawa kerugian dan hidup tdk jujur akan menyelamatkanmu dari kerugian, jalan mana yg akan engkau ambil? Hari demi hari kita akan diperhadapkan kpd pilihan pilihan kecil spt itu, tapi melalui semua itu, jika engkau memilih dgn benar, engkau sedang menyerahkan kendali atau kemudi hidupmu ke tangan sang Nahkoda Agung kita, Yesus Kristus namanya.

dibuat pada : 2016-05-19 18:32:26

Kamis, 19 Mei 2016

Yakobus 3:3-4 "Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.
Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi..."
Coba sekali lagi perhatikan ayat diatas, terutama ayat 4 dari Yakobus 3: "...lihat kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi..." bobot yg berat dan angin yg besar bukan alasan mengapa kapal itu bisa sampai ditujuan, namun kemudi yg sekalipun amat kecil itulah yg menentukan dan mengarahkan jalannya kapal kapal besar tsb sampai ke tujuan. Perjalanan hidup orang percaya sekalipun, akan mengalami yg namanya tantangan dan gempuran angin badai... akan ada beban yg sangat berat sekalipun yg membuat kaki orang percaya lelah dan letih utk melangkah, namun kebenaran Firman Tuhan ini mengajarkan bahwa selama kemudi hidup kita dikendalikan dan di pegang oleh nahkoda yg benar, maka angin badai sekalipun tdk akan menghambat langkah langkah kita. Siapakah yg mengemudikan hidup dan langkah mu? Adakah Tuhan sendiri yg menjadi juru mudimu? Jika benar Tuhan, maka engkau akan mentaati Firman - Nya.

dibuat pada : 2016-05-18 19:33:11

Rabu, 18 Mei 2016

Yakobus 3:3-4 "Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.
Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi..."
Kembali kpd Kejadian 6, ketika Tuhan memutuskan utk mengajarkan gereja-Nya akan betapa pentingnya menyerahkan kendali hidup kita kpd Tuhan, hidup yg rusak yg mengakibatkan bumi menjadi rusak adalah karena penduduknya menjalankan hidup yg rusak... utk memulai kembali generasi yg mau hidup benar dihadapan Tuhan, yg bersedia menjalankan hidup yg tdk rusak, Tuhan memerintahkan Nuh utk membangun bahtera tanpa kemudi, sebab justru disitulah masalah utamanya. Tuhan mau mengendalikan langsung hidup dari satu keturunan yg akan menjalani hidup yg benar dan tdk rusak, dan Tuhan sendirilah yg harus mengendalikan umat yg bersedia utk hidup benar. Namun manusia selalu cenderung utk memberontak, pada jaman Samuel, umat Israel menuntut utk minta seorang raja, padahal saat itu, Tuhan mau memerintah sbg raja atas umat-Nya,... Pemberontakan selalu membawa kehancuran, belajarlah utk bisa dikendalikan. Apa apa saja yg harus bisa dikendalikan? keinginan dan kebanggaan diri sendiri, belajarlah utk siap dikendalikan dlm hal hal tsb, tundukan keinginan dan kebanggaan diri sendiri dibawah Firman Tuhan, jika hal tsb bertabrakan, pasti keinginanmu atau rasa bangga kpd diri sendirimu itu keliru, itulah cara memberikan kendali hidup kita kpd Tuhan.

dibuat pada : 2016-05-17 18:09:40

Selasa, 17 Mei 2016

Yakobus 3:3-4 "Kita Mengenakan Kekang Pada Mulut Kuda, Sehingga Ia Menuruti Kehendak Kita, Dengan Jalan Demikian Kita Dapat Juga Mengendalikan Seluruh Tubuhnya.
Dan Lihat Saja Kapal-kapal, Walaupun Amat Besar Dan Digerakkan Oleh Angin Keras, Namun Dapat Dikendalikan Oleh Kemudi Yang Amat Kecil Menurut Kehendak Jurumudi..."
Ketika Tuhan Memerintahkan Nuh Utk Membangun Bahtera Yg Tujuannya Adalah Tuhan Mau Memulai Kembali Satu Generasi Yg Akan Hidup Benar Dan Taat Kpd Tuhan Sendiri. Inilah Yg Alkitab Tuliskan: Kejadian 6:12-13 "Allah Menilik Bumi Itu Dan Sungguhlah Rusak Benar, Sebab Semua Manusia Menjalankan Hidup Yang Rusak Di Bumi. Berfirmanlah Allah Kepada Nuh: "Aku Telah Memutuskan Untuk Mengakhiri Hidup Segala Makhluk, Sebab Bumi Telah Penuh Dengan Kekerasan Oleh Mereka, Jadi Aku Akan Memusnahkan Mereka Bersama-sama Dengan Bumi." Pada Waktu Itu, Bumi Menjadi Rusak Karena Penduduknya Menjalankan Hidup Yg Rusak, Itulah Alasan Mengapa Tuhan Mau Memulai Kembali Satu Keturunan Yg Baru, Keturunan Yg Mau Hidup Dgn Menjalankan Hidup Yg Benar Bukan Hidup Yg Rusak Yg Mengakibatkan Bumi Menjadi Rusak. Lalu Apa Yg Tuhan Lakukan? Tuhan Memerintahkan Nuh Utk Membuat Bahtera, Dgn Di Design Langsung Oleh Tuhan, Ukuran Panjangnya, Tingginya, Lebarnya, Bahkan Bahan Bakunya Dan Ruang Ruangnya, Semua Diperinci Oleh Tuhan Sendiri. Namun Satu Hal Seakan Terlupakan, Justru Hal Terpenting Yaitu Kendali Atau Kemudi Dari Bahtera Tsb Bahkan Tdk Disebutkan, Sebab Tuhan Mau Mengajarkan Nuh Agar Tuhan Sendiri Yg Memegang Kemudi Tsb.

dibuat pada : 2016-05-16 12:40:25

Senin, 16 Mei 2016

Yakobus 3:3-4 "Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.
Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi..."
Salah satu hal yg sangat penting dlm process pendewasaan rohani seorang percaya adalah 'kerelaan utk menyerahkan kendali' hidup kita kpd tuntunan Roh Kudus. Sepertinya hal ini sederhana, namun sesungguhnya hal ini tdk mudah, sebab yg membuat hal ini sulit adalah ego dan kedegilan diri kita sendiri. Banyak anak anak Tuhan yg menyebut diri sbg seorang percaya, namun memegang erat erat kemudi hidupnya sendiri. Kita hanya mampu dipakai Tuhan menjadi pribadi spt yg Dia rindukan, jika kita bersedia utk menyerahkan kendali hidup kita kpd tuntunan Roh Kudus, tanpa penyerahan tsb, hidup kekristenan kita hanyalah sekedar sandiwara.

Melepaskan kendali, tdk lagi duduk dikursi yg melakukan kontrol adalah hal yg paling sulit yg bisa dilakukan manusia, sebab secara naluri, kita selalu ingin memegang kendali hidup kita sendiri. Ketika manusia berani melepaskan kendali hidupnya sendiri kpd Tuhan, saat itu jugalah sesungguhnya kita menganggap Dia sbg Tuhan yg berdaulat.

dibuat pada : 2016-05-15 19:21:21